Quantum Energi Spiritual
☚ Kembali ke Kumpulan Artikel

Arti Kata Jiwa Pengertian Jiwa

Kamus Spiritual: Arti Kata Jiwa
Membahas Tentang Tubuh manusia dalam kajian spiritual, menyangkut juga persoalan Jiwa Manusia. Apa sebenarnya arti kata Jiwa? Apakah Jiwa memiliki makna yg sama dengan Ruh / Roh?

Kajian Linguistik-Jiwa Menurut Bahasa (Etimologi)
Kata Jiwa (en: Soul) berasal dari bahasa sanskerta Jiva yang artinya benih kehidupan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jiwa adalah roh manusia yang ada di di tubuh dan menyebabkan seseorang hidup atau nyawa. Jiwa juga diartikan sebagai seluruh kehidupan batin manusia (yang terjadi dari perasaan, pikiran, angan-angan, dan sebagainya.

Jiwa dalam Bahasa al-Quran

Jika Jiwa diartikan sebagai Roh maka ia menjadi urusan Allah. Ditegaskan dalam surah al-Israa` ayat ke-85: Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad), tentang roh, Katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku dan tidaklah kamu diberikan pengetahuan melainkan sedikit. (A-Quran dan Terjamahannya: DEPAG RI, 1992, hlm:437)
al-fajr-27-30 jiwa yg tenang
Jiwa orang mu`min adalah Nafsun Muthmainnah. Dalam surah Al-Fajr ayat ke 27-30: “wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam Jama`ah hamba-hamba-Ku. (A-Quran dan Terjamahannya: DEPAG RI, 1992, hlm:437)

Pengertian Jiwa Menurut Para Filosof Muslim

Jiwa Menurut Al-Kindi (Abu Yusuf Yakub ibn Ishaq ibn al-Sahabbah ibn Imran ibn Muhammad ibn al-Asy`as ibn Qais ibn al-Kindi):

Jiwa adalah tidak tersusun, mempunyai arti penting, sempurna, dan berstatus mulia sebab jiwa merupakan substansi roh yg berasal dari Tuhan. Memiliki sifat spiritual, ilahiah, terpisah dan berbeda dari tubuh.

Menurut al-Kindi, jiwa manusia mempunyai 3 daya yaitu: daya bernafsu (appetative, al-quwwah al-syahwaniyyah), daya pemarah (irascible, al-quwwah al-ghadhobiyyah), dan daya berpikir (cognitive faculty, al-quwwah al-a~qilah). (Ahmed Fouad El-Ehwany. Al-Kindi, dikutif oleh MM. Syarif [ed] A History of Moslim Philosphy, Vol. 1 hlm. 432)

Jiwa Menurut Al-Farabi (Abunaser: Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Auzalagh):

Jiwa bersifat rohani, bukan materi, terwujud setelah adanya badan (Jiwa tercipta setelah jasad siap menerima jiwa). Jiwa tidak berpindah-pindah dari satu badan ke badan lain. Hubungan jiwa dan jasad merupakan hubungan kesatuan secara accident, artinya antara keduanya mempunyai substansi yg berbeda. Apabila jasad mati, maka tidak akan membuat jiwa mati.

Jiwa manusia disebut dg al-nafs al-nathiqah yang berasal dari alam ilahi, sedangkan jasad berasal dari alam khalq, berbentuk, ada wujud, bergerak, memiliki ukuran, dll.

Menurut al-Farabi, jiwa manusia mempunyai 3 daya, yaitu daya bergerak (montion, al-Muharrikah), daya mengetahui (cognition, al-Mudarrikah), daya berpikir (intelection, al-na~tiqah)

Jiwa Menurut Al-Ghazali (Abu Hamid ibn Muhammad ibn Ahmad al-Ghazali):

Jiwa merupakan inti hakekat manusia yg menjadi makhluk spiritual robbani yg sangat halus (lathifa rabbaniyyah ruhaniyyah) berada di alam spiritual dan bersifat ilahiah, berbeda dg jasad yg berada di alam materi.

Jiwa menurut al-Ghazali adalah suatu zat (jauhar) dan bukan suatu keadaan atau aksidan (`ardh), sehingga ia ada pada dirinya sendiri. Jasad bergantung kepada jiwa, dan bukan jiwa yg bergantung kepada jasad. Jiwa mempunyai potensi kodrati (Ash al-fithrah), yaitu kecendrungan terhadap kebaikan dan keengganan atas kekejian.

Bagi Al-Ghazali, jiwa diciptakan Allah di alam arwah pada saat benih manusia memasuki alam rahim yg selanjutnya dihubungkan dengan jasad. Namun begitu, jiwa akan tetap hidup walau jasa telah mati, terkceuali kehilangan wadahnya. Pada waktu lahir, jiwa merupakan zat yg bersih dan masih murni dengan esensi malaikat. Kecendrungan jiwa atas kejahatan setelah lahirnya nafsu bertentangan dengan esensi kemurnian jiwa.

Artikel Belum Selesai…!!!

6 Pembaca Menyukai ini

Arti Kata Sejenis:

Share Link Kamus:
HTML Link Kamus:

Leave a Reply