Quantum Energi Spiritual

Rukun dan Syarat Jual Beli

Kajian Fiqh Islam: Mengenal Rukun dan Syarat Jual Beli
Setelah tahu tentang apa yg dimaksud dengan jual beli serta bagaimana hukumnya di dalam Islam, maka hal lain yang perlu diketahui terkait persoalan transaksi jual beli dalam Islam adalah apa saja rukun dan syarat Jual Beli (البيع والشراء).

Rukun Jual Beli
photo jual beli supermarket utk rukun jual beliTerdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama fiqh, khususnya antara ulama Hanafiyah dan Jumhur Ulama.

Ulama Hanafiyah
Rukun jual beli di kalangan Ulama Hanafiah hanya satu, yaitu adanya Ijab (ungkapan kalimat “Membeli” dari Pembeli) dan Qabul (ungkapan kalimat “Menjual” dari Penjual).  Bagi madzhab hanafiah, unsur kerelaan (taradhi/rido) merupakan rukun utama jual beli, namun mengingat unsur kerelaan berkaitan dg persoalan hati yg sulit diindera dan tidak kelihatan oleh mata zahir, maka diperlukan suatu indikasi yg menunjukkan unsur kerelaan itu dari kedua belah pihak.  Indikasi kerelaan antara Penjual dan Pembeli tersebut menurut Hanafiah dapat diungkapkan melalui proses Ijab dan Qabul.

Jumhur Ulama
Menurut Jumhur Ulama, rukun jual beli ada empat, yaitu:

  1. Ada orang yg berakad atau al-muta`agidain (Penjual dan Pembeli)
  2. Ada Sighat (lafal ijab dan qabul)
  3. Ada barang yg dibeli
  4. Ada nilai tukar pengganti barang

Menurut ulama Hanafiyah, rukun nomor 1, 3, dan 4, termasuk ke dalam syarat-syarat jual beli, bukan rukun jual beli.

Syarat-syarat Jual Beli
Para ulama fiqh sepakat menyatakan bahwa orang yg melakukan transaksi jual beli harus memenuhi beberapa persyaratan berikut ini, yaitu:

  1. Berakal dan baligh: Jumhur ulama fiqh berpendapat bahwa orang yg melakukan akad jual beli minimal harus sudah baligh dan berakal. Artinya, transaksi jual beli yg dilakukan oleh orang gila dan anak kecil termasuk anak kecil yg sudah mumayyiz walau telah mendapatkan izin dari walinya, hukumnya tidak sah. Berbeda dg Jumhur Ulama, madzhab Hanafiyah menganggap sah akad jual beli yg dilakukan oleh anak kecil mumayyiz yg sudah mendapatkan izin walinya.
  2. Akad dilakukan oleh orang yg berbeda. Artinya: Seseorang tidak dapat bertindak dalam waktu bersamaan sebagai penjual sekaligus pembeli. Misalnya, Anda menjual sekaligus membeli barang anda sendiri. Maka jual beli anda ini hukumnya tidak sah.

Wallahu A`lam

Sumber Pendalaman:
DR. Nasrun Haroen, MA, Fiqh Muamalah, h. 114-116)

3 Menyukai Info ini

Catatan Artikel / Berita Sejenis:

Share Link Press:
HTML Link Press:

Leave a Reply